Keadilan Islam



Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
"Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid," gumam sang gubernur.

Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.

"Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!" ancam sang gubernur.

Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran.Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.

"Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?" tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan full wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.

Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
"Masya Allah, :kecam Umar.
"Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada," si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.

"Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir," kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khattab.

Si Yahudi itu semakin kebingungan, "Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!" ujar Yahudi itu pelan.


Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak.Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.

Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. "Bongkar masjid itu!" teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.

"Tunggu!" teriak sang kakek. "Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!" Amr bin Ash memegang pundak si kakek, "Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk."
"Tapi....." sela si kakek.

"Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk.
Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!" jelas sang gubernur.

"Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!" tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca.

Sumber : http://www.oaseqalbu.net

06.30 | Posted in | Read More »

Bunga Rampai Nasehat


Bunga Rampai Nasehat
oleh : Aa Gym
Mudah-mudahan Allah yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian apa pun yang terjadi. Yakinlah tidak ada satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna. Teramat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran dari apa yang sedang kita jalani.

Hidup ini adalah samudera hikmah tiada terputus. Seharusnya apa pun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri kita. Sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.
 

Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap, benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang bercucuran di jalan Allah SWT.

Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal ketika menonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya berjudul (maaf) “Gairah Membara”, film maksiat, na’udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat maut adalah hal yang sangat penting.

Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam semesta. Yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah saw.

Sahabat, percayalah sehebat apa pun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jika kita tidak memiliki harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak punya harga diri.

Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita menjadi orang yang memiliki harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT, juga terhormat dalam pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan. Ada pun warisan terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan yang tanpa cela dan kehinaan.

Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah saw memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan al-Amin (seorang yang sangat terpercaya).


Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita menjadi seorang muslim yang terpercaya. Sehingga tidak ada keraguan sama sekali bagi siapa pun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik kawan atau lawan. Tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, mau pun amanah yang kita pikul.

Oleh karena itu, Pertama: jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong dalam hal apa pun. Sekecil dan sesederhana apa pun. Bahkan betapa pun terhadap anak kecil atau dalam senda gurau sekali pun. Harus benar-benar bersih dan meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).

Kedua: jaga lisan. Jangan pernah menambah-nambah, mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada kita.

Ketiga: jangan sok tahu atau sok pintar dengan menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohannya. Yakinlah kalau kita sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya. Jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita berdusta dalam pandangan Allah.

Keempat: jangan pernah membocorkan rahasia atau amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat, bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain kepada kita, maka jangan pernah percayai dia. Karena ketika berpisah dengan kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain lagi.

Kelima: jangan pernah mengingkari janji dan jangan mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji, seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.          
----sumber:cyberMQ.com

06.13 | Posted in | Read More »

Ukhuwah kita

Oleh Lolli Adriani

Sejatinya ukhuwah tidak menyakitkan.

Ukhuwah itu indah, seindah taman-taman yang dipenuhi bunga beraneka warna.

Pernah kita berbagi sejuta kisah.

Pernah, kita saling bergandengan tangan.

Melangkah, berlari, terjatuh, lalu bangkit.

Ingatkah, kau sahabat?

Kita berjanji, akan terus melangkah di sini, di jalan ini.Walau debu jalanan kadang membutakan mata. Perih. Walau kaki lecet bahkan terluka. Tapi aku dan kamu tau, ini, jalan yang telah kita pilih, pilihan sadar yang kita yakini sepenuh hati.

Mungkin, kamu tak kan lupa, bahwa kita juga manusia. Seringkali juga kepala kita saling berbenturan. Sakit. Dan aku akan berusaha untuk diam, menahan semua rasa yang ada. Berusaha menuliskan semuanya pada pasir-pasir. Berharap ombak akan menghapusnya. Dan aku akan segera melupakannya.

Sejatinya ukhuwah itu manis. Harumnya seperti wangi kopi di pagi hari. Seperti juga kalimat-kalimat penyejuk kalbu darimu yang kuterima di layar handphoneku. Atau tak perlu dengan kata-kata. Kadang dengan perhatian kecilmu padaku. Tanpa kau sadari, aku selalu menuliskannya di batu-batu berkilau dalam hatiku, berharap angin sekeras apapun tak akan menghapus ukiran indahnya.

Maaf, karena ketidaksempurnaanku. Seringkali juga rasa jenuh itu menyerang jiwaku yang rapuh. Dan ketika aku tlah letih dengan semuanya, ingin meninggalkan semua yang telah kita ikatkan kuat-kuat, pilihan yang kupunya hanyalah bertahan. Dan tetap bersama.

Karena ukhuwah itu ada, telah ada di hati kita sejak lama. Sejak pertama kali aku mengenalmu, saat kita masih naif dalam memandang dunia.

Kamu pasti ingat sebuah kisah indah ini,

dari Abu Hurairah ra, berkata, "Rasulullah bersabda, "Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain lalu Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemuinya dan berkata, "Kau mau ke mana?"Ia menjawab,"Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.Malaikat terus bertanya,"Apakah kamu akan memberikan sesuatu kepada saudaramu?"Dia menjawab,"Tidak ada, melainkan aku mencintainya karena Allah SWT. Malaikat berkata, " Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tsb karena-Nya." (HR. Muslim)

Begitulah cintaku padamu, sahabat. Aku mencintaimu karena-Nya. Karena impian kita, disediakan oleh Allah mimbar-mimbar cahaya di surga..

Muharram, 1433 H.

08.50 | Posted in | Read More »

Ketika Dirimu Bahagia, Sahabat

Oleh Eza Indahsari

Semalam, kubaca sepucuk SMS dari sahabatku. Kau bilang, kebahagiaan itu ketika tulisanmu dibaca orang dan orang itu mencarimu di jejaring socsal dan mengatakan bahwa tulisanmu bagus. Dan keningku sedikit berkerut dan berpikir bahwa dirimu terlalu berlebihan. ada sedikit rasa yang muncul di sana, sahabat.

Aku iri padamu.

Kemudian pagi ini aku mengakses situs ini eramuslim ini. Kubuka judul demi judul dan lalu sedikit tersentak. ada namamu di 2 buah tulisan yang kubaca. Ternyata inilah tulisan yang kau maksud tadi malam. Ada lebih dari seratus orang yang menyukainya. dan lagi-lagi rasa itu makin negatif saja, sahabat.

Aku makin iri padamu.

Ah, sahabat macam apa aku. Sahabat bertopeng? Kurang bahagia aku di atas prestasimu. Merasa kau tak pantas membuat tulisan indah itu, merasa kau tak pantas menerima pujian-pujian itu. Astghfirullah. Hinanya aku, Sahabat. Padahal sudah sekian lama kita berbagi kisah. Dan kita kerap bersaing dan berlomba jadi yang terbaik. Dan kau bahagia ketika ku berhasil meraih prestasi itu.

Sahabat, sepertinya perlu dipertanyakan keimananku hari ini. Apa kabar iman? Mungkin sedang jauh aku dari-Nya. Aku terlalu fokus dengan segala macam kelebihanku, keberhasilanku, dan lupa bercermin terhadap kekurangan-kekuranganku. Alangkah egoisnya aku, alangkah sombongnya aku. Astaghfirullah.

Sahabat, mudah-mudahan dengan tulisan ini. ku bisa mengingatkan diri, memperbaiki diri. Ingin ku bertemu denganmu hari ini. Memelukmu erat, meminta maaf atas segala pikiran negatifku, dan mengatakan,

“Aku mencintaimu karena Allah”

Padang, 12.35 WIB

Sumber: Eramuslim.com

08.44 | Posted in | Read More »

Jangan Sedih


Oleh Kiptiah

Jangan sedih jika kamu belum bisa mengunjungi tempat yang kamu impikan di seluruh dunia atau di Indonesia, karena bisa jadi karya mu bisa menembus dunia yang belum kamu singgahi.

Jangan sedih jika pakaianmu bukanlah model terbaru atau termahal, karena yang Allah lihat bukanlah model tapi bagaimana sempurnanya seorang hamba dalam menjaga auratnya dari orang-orang yang tak pantas menatapnya.

Jangan sedih ketika kamu belum bisa memakan makanan yang kata orang-orang enak dan mewah, bisa jadi makanan yang kamu nikmati saat ini lebih berkah dan bernilai. Serta bisa belajar bersyukur bahwa kamu masih bisa menemukan makanan hari ini di banding mereka-mereka yang kurang beruntung.

Jangan sedih jika barang-barang yang kamu miliki saat ini tidak ada merk, bisa jadi barang-barang yang kamu miliki jauh lebih bermanfaat dan di beli berdasarkan kebutuhan bukan keinginan semata.

Jangan sedih jika kamu sering menemui hal-hal buruk dalam hidupmu, jadikan saja itu semua sarana mendulang hikmah dan mendekatkan dirimu pada Sang Maha Pencipta serta sarana peningkatan derajat dirimu sebagai hamba.

Jangan sedih jika kini kamu tidak memiliki kawan-kawan yang banyak, karena kawan terbaik yang kamu bawa pada saat akhir nanti adalah amal terbaikmu. Dan dengan sedikitnya kawan yang kamu miliki bisa membuat kamu tidak bergantung kepada mereka tapi hanya kepada Allah.

Jangan sedih jika kamu merasa banyak sekali kekurangan yang kamu miliki, yakinlah dan coba korek perlahan potensi yang kamu miliki. Mulailah dengan meneliti apa kesukaanmu, bisa jadi hal tersebut adalah sesuatu yang tidak semua orang mampu lakukan dan tersenyumlah, karena kamu tahu apa kelebihannmu.

Jangan sedih jika kamu tidak bisa dengan mudah mendapatkan barang-barang yang kamu inginkan, itu berarti Allah telah memberikan rasa sayangnya kepadamu sehingga kamu akan lebih mensyukuri apa yang kamu dapatkan dengan susah payah. Dan kamu bukan merupakan hamba hawa nafsu.

Jangan sedih jika saat ini kamu masih sendiri belum menemukan jodohmu padahal kamu telah berusaha. Nikmati saja hobimu saat ini yang belum tentu bisa kamu nikmati ketika nanti menikah, nikmati saja untuk mendulang ilmu serta mendekatkan diri kepada Allah.

Jangan sedih jika kamu yang telah menikah belum juga di karuniai momongan meskipun telah lama menikah. Bisa jadi Allah sedang memberikan ujian peningkatan iman lewat proses kesabaran dan pembelajaran. Bila nanti kamu telah di beri amanah oleh Allah, maka akan jauh lebih siap dan baik untuk mendidiknya.

Jangan sedih jika saat ini kamu merasa bukan siapa-siapa, tidak apa-apa. Jika yang kamu maksud adalah bukan siapa-siapa di dunia ini. Tapi jadilah siapa-siapa yang kelak makhluk langit akan membanggakanmu di akhirat kelak.

Jangan sedih jika kamu merasa di abaikan makhluk bumi dan merasa terasing. Karena sebaik-baik pendengar adalah Allah. Dan akhirat hanya untuk orang yang asing. Asing dengan dunia. Karena dunia adalah persinggahan sementara sedang kampung keabadian adalah akhirat.

Jangan sedih, Jangan sedih, Jangan sedih... Karena Allah bersama kita.. Karena kita adalah pemenang !!

www.rainkelana.blogspot.com

08.41 | Posted in | Read More »

Jam Weker dan Pribadi Muslim

Coba lihat dalam Al Qur’an ada wal fajri, wadh dhuha, wal ‘asri, wal laili dan sebagainya. Seolah mengajarkan kita agar menjaganya dengan sepenuh hati.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Waktu yang Nabi Muhammad-pun telah berwasiat tentangnya yaitu dengan memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, waktu sehat sebelum sakit, waktu muda sebelum tua, waktu senggang sebelum sibuk dan waktu kaya sebelum miskin. Sungguh sebuah wasiat yang harus dicermati agar tidak menyesal karenanya.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Waktu yang berjalan begitu cepat tanpa kita sadari. Waktu masa kecil yang telah kita lewati dan sekarang kita meninggalkannya menuju dewasa. Seperti waktu di tahun 2011 yang belum terlupa namun kini 2 bulan kita telah meninggalkannya. Itulah mengapa waktu ibarat pedang, yang akan menebas apapun dengan cepat jika kita tidak menyiapkan segala sesuatunya.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Itulah mengapa alarmku mengajarkan kalian untuk menentukan suatu target di waktu tertentu sehingga kala ia berbunyi kalian siap untuk melakukan sesuatu. Maka buatlah target – target pribadi di suatu kurun waktu tertentu dan berusahalah sungguh-sungguh untuk menggapainya baik itu dimensi akhirat atau dimensi dunia. Itulah yang disebut menjemput taqdir, karena rizki dan jodoh tidak akan datang sendiri dan harus dijemput dan setelah itu bertawakalah karena hasil bukan urusan kita namun urusan Allah SWT.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Waktu yang harus dimanfaatkan sebelum malaikat maut datang menunaikan tugasnya. Karena waktu tidak akan kembali, maka tidak ada alasan bagi kita bahwa kita belum sempat beriman, kita belum sempat sholat, kita belum sempat bebakti kepada orang tua, kita belum sempat berjilbab, kita belum sempat bermanfaat bagi orang lain, dan belum sempat lainnya.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Salimul Aqidah atau aqidah yang bersih dengan mengeEsakan Allah dengan menjauhi syirik, khurafat, ramalan, serta perdukunan karena “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam (QS 6:162).

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Shahihul Ibadah atau ibadah yang benar yaitu melaksanakan setiap peribadatan dengan merujuk kepada sunnah Rasul SAW tanpa ada unsur penambahan atau pengurangan. Belajarlah Islam secara menyeuruh (kaffah) agar engkau tahu mana ibadah yang sesuai Islam mana yang tidak.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Matinul Khuluq atau akhlak yang kokoh yaitu akhlak yang mulia dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya karena sesungguhnya Rosulullah telah mencontohkan :” Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS 68:4).

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Qowiyyul Jismi atau kekuatan jasmani yaitu memiliki tubuh yang kuat sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam dan kegiatan dunia secara optimal apalagi Rasulullah SAW bersabda : Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah (HR. Muslim).

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Mutsaqqoful Fikri atau Intelek dalam berpikir yaitu memiliki wawasan keislaman dan keilmuan dunia yang luas karena Allah berfirman : Katakanlah: “Samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, Sesungguhnya orang-orang yang berakalah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Mujahadatul Linafsihi atau berjuang melawan hawa nafsu yaitu melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk dengan kesungguhan. Kesungguhan itu ada saat seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu yang sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam) (HR. Hakim).

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Munazhzhamun fi Syu’unihi atau teratur dalam suatu urusan yaitu professional dalam melaksanakan urusan ubudiyah (ibadah) maupun muamalah (kemasyarakatan) dimana salah satunya adalah professional di dunia kerja.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Qodirun ‘Alal Kasbi atau mampu berusaha sendiri yaitu mampu mandiri secara ekonomi atau mampu mencari nafkah. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan ketrampilan. Maka tuntutlah ilmu setinggi-tingginya selagi engkau masih hidup.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, milikilah Nafi’un Lighoirihi atau bermanfaat bagi orang lain yaitu memberikan manfaat yang baik dimanapun berada, sehingga orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka hanya ini yang dapat aku berikan kepada kalian sebagai ungkapan terimakasih atas kerjasama selama ini. Sebuah nasihat untuk masa depan agar kalian bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya yang dikenal dengan harishun ‘ala waqtihi. Sebuah nasihat yang jika kita melaksanakannya maka kita menjadi orang yang sukses didunia tanpa melupakan sukses di akhirat.

Kriiiing, aku memang hanya jam weker, namun aku adalah penanda waktu. Maka selagi masih ada waktu, maafkanlah segala khilaf dan salah. Karena mungkin ini perjumpaan kita yang terakhir, namun jika Allah berkehendak kita bersilaturahim di lain waktu dan kesempatan maka kesyukuranlah yang pantas kita ungkapkan.

*ditulis untuk tim Project LUP Sucofindo 2011. Apresiasi yang sangat tinggi atas kerjasama dan dedikasi dalam menyelesaikan project saat banyak pihak tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.

Sumber: eramuslim.com

08.33 | Posted in | Read More »